Rabu, 22 Juni 2011

Guitar Secco, Produk Lokal Kualitas Internasional



Hanya dengan menggunakan telinga, kita bisa mengetahui suara gitar itu memiliki kualitas yang sempurna. Tak ada satu alat pun yang dapat menyaingi telinga yang telah diciptakan Tuhan, Sang Pencipta.
            Begitulah Yosefat Wenardi Wigono, pembuat gitar dengan merek Secco Guitar ini memberikan ilmu tentang cara mengetahui kualitas suara gitar yang baik dan indah. Sebagai seorang luthier atau pembuat gitar, pria yang akrab disapa Pak Wen mengaku bahwa telinga sebagai salah satu ciptaan Tuhan yang patut disyukuri. Tanpa telinga, seorang luthier tidak dapat mengetahui kualitas suara dari gitar yang ia buat. Alat yang ada hanyalah untuk mengukur frekuensi dari suara gitar tersebut, bukan mengukur keindahan suara gitar.
            Keterampilan membuat gitar diakui Pak Wen didapat dari Ki Anong Naeni, seorang luthier ternama di Bandung, Jawa Barat. Pak Wen dan Ki Anong bersama-sama mendirikan usaha pembuatan gitar akustik ini sejak tahun 1999. Selama lima tahun, Pak Wen mendapatkan bimbingan dari Ki Anong untuk membuat gitar. “Learning by doing”, itulah yang dilakukan Pak Wen saat berguru dengan Ki Anong sembari mempraktikan membuat gitar.
            Selain belajar dari Ki Anong, Pak Wen juga mengembara ke negara Spanyol untuk  menambah wawasannya dalam membuat gitar. Menurut Pak Wen, Spanyol merupakan negara penghasil gitar-gitar terbaik di dunia. Maestro-maestro luthier dunia belajar membuat gitar di negeri itu. Pak Wen melihat langsung di sana dan mempelajari bagaimana luthier besar kelas dunia berkreasi, yang mungkin pada proses berikutnya kunjungan tersebut akan menjadi pengalaman menarik sekaligus bekal untuk menciptakan gitar yang ideal dan mempunyai pengakuan.
            “Kota Madrid dan Granada merupakan dua kota di Spanyol yang banyak memiliki pengrajin-pengrajin gitar kelas dunia,” ujar Pak Wen. Selain belajar ke Spanyol, Pak Wen juga mempelajari struktur dan komponen yang terdapat pada gitar-gitar buatan Jepang. Dari Spanyol dan Jepang inilah Pak Wen dapat membuat gitar-gitar yang berkualitas.
            Dalam proses pembuatan gitar ini, Pak Wen menggunakan kayu-kayu yang berkualitas sebagai bahan pembuatan gitar-gitarnya. “Gitar yang baik dan berkualitas harus memiliki material yang bagus dan niat yang tulus dari pembuatnya. Itulah yang selalu saya tanamkan kepada karyawan-karyawan saya,” ujar Pak Wen yang memiliki workshop di Jalan Tanjung, nomor 13, Kota Bandung, Jawa Barat.
            Tak tanggung-tanggung, Pak Wen mengimpor berbagai jenis kayu alami atau solid wood dari benua Eropa. Kayu sprus dari Jerman dan cedar dari Spanyol merupakan bahan utama gitar-gitar buatan Secco Guitar. Selain mengimpor kayu dari Eropa, Pak Wen juga menggunakan kayu-kayu lokal dari Indonesia seperti mahoni dan sonokeling atau dikenal juga dengan nama rosewood. Dipilihnya kayu-kayu tersebut bukanlah tanpa alasan. Pak Wen tahu betul mana kayu yang dapat menghasilkan kualitas suara yang baik bagi gitar-gitar akustiknya.
Dalam rangka menjaga kualitas dan memberikan pelayanan kepada pelanggannya, Pak Wen memberikan garansi bila seseorang membeli gitarnya. Tak tanggung-tanggung Pak Wen memberikan garansi seumur hidup bagi pembeli yang membeli gitar yang berbahan kayu alami. Kepuasan pelanggan adalah yang utama. Membuat satu gitar, baginya seperti membuat dua buah gitar. 
Ketika ditanya mengenai perbedaan gitar buatan Secco dengan gitar merek lain, Pak Wen menjawab material-material itulah yang membedakan gitar Secco dengan gitar-gitar buatan merek lain. Selain material, yang membedakan adalah suara yang dikeluarkan dari gitar. “Setiap luthier memiliki resep tersendiri dalam menghasilkan suara,” tukas Pak Wen.
Dalam menjual gitar-gitarnya, Pak Wen menjual dengan kisaran harga antara Rp 3 juta sampai Rp 40 juta. Komponen-komponen yang ada pada setiap gitar sangat berpengaruh dalam menentukan harga jual gitar. Menurut Pak Wen, harga yang ia tawarkan masih tergolong murah. Bahkan seorang pelanggannya pernah mengatakan bila Pak Wen sangat murah dalam menjual gitar-gitarnya.
“Membeli gitar itu ibarat membeli mobil. Orang akan membeli gitar sesuai dengan minat serta uang yang ia keluarkan. Kalau seseorang berminat dan mampu membeli mobil Mercedes Benz, kenapa ia harus membeli Avanza,” tegas Pak Wen.
Berbeda dengan merek Yamaha, Gibson, atau merek terkenal lainnya, nama Secco Guitar tidak banyak diketahui oleh masyarakat. Menurut Pak Wen nama Secco Gitar kurang terdengar di masyarakat karena memang produksinya yang limited. Hal ini terjadi karena gitar-gitar buatan Secco dibuat oleh tangan manusia, bukan oleh mesin-mesin pabrik yang bisa membuat gitar secara massal.
            Walaupun namanya tak terkenal di masyarakat, namun sudah banyak musisi Indonesia yang membeli gitar merek Secco ini. Tercatat nama Iwan Fals, Sawung Jabo, Donny Suhendar, Debu, serta Nugie pernah memesan gitar buatan Pak Wen ini. Terdapat juga musisi-musisi asal Bandung yang menjadi pelanggan Secco Guitar seperti Mukti-Mukti, Pidi Baiq, dan Harry Pochang. Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pun menggunakan gitar Secco ini.
            “Saat itu saya kedatangan beberapa orang yang memesan gitar sebagai hadiah ulang tahun SBY, dan mereka memesan gitar yang harganya kalau tidak salah kurang dari Rp 10 juta,” kenang Pak Wen.
            Kualitas gitar Secco tak hanya diakui musisi dan kolektor gitar dalam negeri, tapi juga oleh musisi dan kolektor yang ada di luar negeri seperti Malaysia, Singapura, Australia, Jepang, dan Amerika Serikat. Mereka inilah pelanggan yang membeli gitar dengan harga tinggi hingga mencapai Rp 40 juta.
Pak Wen, luthier asal Bandung yang gitar-gitar karyanya sudah mencapai luar negeri
           
“Pemasaran yang kita lakukan memakai sistem “MLM” alias mulut lewat mulut,” canda Pak Wen. Dengan sistem “MLM” inilah omset yang didapat oleh Secco Gitar dalam satu bulan mencapai Rp 100 juta. Terhitung sudah sekitar 400 sampai 500 buah gitar yang diproduksi Secco Gitar dari tahun 1999 hingga saat ini. Memang secara kuantitas, produk yang dihasilkan belum banyak, namun Pak Wen optimis Secco Guitar akan naik ke level yang paling atas.
Kendala utama yang dihadapi oleh Pak Wen adalah dari segi sumber daya manusia. Menurut Pak Wen, ia mengaku sulit untuk menyamakan visi dan misi. Pak Wen menyiasatinya dengan rutin mengadakan pelatihan-pelatihan sehingga karyawan-karyawannya dapat membuat gitar dengan sempurna.
Akhir wawancara, Pak Wen memberikan pesan untuk para wirausahawan muda yang ingin sukses. Berdasarkan pengalaman Pak Wen, terdapat tiga hal yang terpenting bila seseorang ingin berwirausaha. Pertama, kita harus tahu tujuan atau niat kita untuk berwirausaha. Tujuan atau niat tersebut haruslah tulus dan ikhlas. Setelah mengetahui tujuan, kita pun harus konsisten dengan tujuan kita. Barulah setelah dua hal itu terpenuhi, seorang wirausahawan yang baik wajib untuk mengembangkan sumber daya manusia. Itulah resep sukses dari Pak Wen.
Untuk para musisi di Indonesia, Pak Wen berpesan, "Mulailah cintai dan gunakan gitar produksi dalam negeri. Saya yakin, kualitas tidak jauh berbeda dengan buatan luar negeri."
Gitar dengan motif ukiran batik menjadi salah satu karya terbaik Pak Wen
Tim Liputan: Bayu Septianto & Achmad Zahid

1 komentar:

Arief Magnitone Guitar mengatakan...

Nice article.. :)
Maju terus Luthier Indonesia..!!

Poskan Komentar